1. Pendahuluan
Krisis moneter 1998 merupakan salah satu peristiwa ekonomi paling kelam dalam sejarah Indonesia, di mana nilai tukar Rupiah anjlok drastis dari sekitar Rp2.500 menjadi Rp16.000 per dolar AS. Berikut adalah ringkasan mengenai peran George Soros dan kronologi peristiwa tersebut:
2. Peran George Soros
George Soros, melalui perusahaannya Quantum Fund, dikenal sebagai spekulan mata uang. Perannya dalam krisis 1998 sering dilihat dari dua sisi:
2.1 Tudingan sebagai "Biang Keladi"
Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, adalah tokoh pertama yang menuduh Soros sebagai penyebab krisis di Asia Tenggara. Soros dituding melakukan spekulasi besar-besaran dengan menjual mata uang lokal (dimulai dari Baht Thailand) untuk mendapatkan keuntungan, yang memicu kepanikan pasar dan jatuhnya nilai mata uang secara berantai di kawasan Asia, termasuk Indonesia
2.2 Pandangan Soros
Soros membantah tuduhan tersebut. Menurutnya, dia hanya memanfaatkan peluang dari kelemahan sistem ekonomi di negara-negara tersebut. Ia berargumen bahwa fundamental ekonomi negara-negara Asia saat itu memang sedang rapuh, dan tindakannya hanya mempercepat apa yang seharusnya terjadi (proses penyesuaian pasar)
2.3 Soros meminjam Rupiah dari bank-bank besar di luar negeri
Spekulan seperti Soros meminjam meminjam Rupiah dalam jumlah besar dari bank-bank besar di luar negeri yang memiliki simpanan mata uang asing (termasuk rupiah), seperti bank di Singapura atau Hong Kong, saat nilainya masih kuat (misal 1 USD = Rp 2500)). Mereka tidak perlu datang ke Jakarta untuk mendapatkan (meminjam) uang tersebut.
2.4 Jaminan Pinjaman (Collateral)
Dalam dunia keuangan profesional, jaminan ini disebut sebagai Collateral. Spekulan tidak menggunakan aset fisik seperti tanah, melainkan aset finansial yang sangat likuid, misalnya Surat Utang Negara (Treasury Bills): Terutama US Treasury Bonds (Surat Utang Amerika Serikat) karena dianggap sebagai aset paling aman di dunia.
2.5 Ringkasan Mekanismenya
Soros memiliki Dolar AS atau US Treasury dalam jumlah besar. Dia menjaminkan aset "aman" ini ke bank di Singapura/Hong Kong untuk meminjam Rupiah. Begitu Rupiah didapat, dia langsung menjualnya ke pasar (ditukar kembali ke Dolar). Karena jumlah yang dijual masif, nilai Rupiah jatuh. Saat sudah sangat murah, dia membeli Rupiah kembali untuk membayar utang ke bank, dan selisihnya menjadi keuntungan bersih dalam Dolar.
2.6 Kemana Soros Menjual Rupiahnya
George Soros menjual Rupiah tersebut ke Pasar Valuta Asing Global (Interbank Market). Berikut adalah detailnya
2.6.1 Menjual ke "Market Makers"
Di pusat keuangan seperti Singapura dan Hong Kong, ada banyak bank besar yang bertindak sebagai Market Makers (penyedia harga). Soros tidak menjual ke satu bank, tapi ke siapa saja yang mau membeli Rupiah saat itu. Pembelinya bisa jadi:
- Bank Komersial Lain (tentu saja bukan Bank yang meminjamkan Rupiah ke Soros): Bank yang butuh Rupiah untuk nasabah ekspor-impor.
- Perusahaan Multinasional di Indonesia: Perusahaan yang masih memiliki kewajiban membayar gaji atau tagihan dalam Rupiah di Indonesia.
- Spekulan Kecil: Investor yang menyangka penurunan Rupiah sudah mencapai dasar (bottom) dan mencoba membeli karena menganggap harga sudah murah (padahal ternyata masih turun lagi).
2.6.2 Bank Indonesia (Korban Terbesar)
Inilah poin yang paling tragis. Saat nilai Rupiah mulai turun akibat aksi jual Soros dkk, Bank Indonesia (BI) mencoba melakukan intervensi untuk menyelamatkan Rupiah.
- BI membeli Rupiah dari pasar menggunakan cadangan Dolar AS milik negara.
- Artinya, secara tidak langsung, BI-lah yang membeli Rupiah yang dijual oleh para spekulan dengan harapan harga Rupiah stabil kembali.
- Namun, karena jumlah yang dijual spekulan jauh lebih besar daripada cadangan dolar BI, BI akhirnya "menyerah", kehabisan dolar, dan nilai Rupiah pun lepas kendali.
Kesimpulan, Soros meminjam dari Sisi Penawaran (Supply) bank investasi, lalu menjualnya ke Sisi Permintaan (Demand) di pasar terbuka yang terdiri dari bank lain, perusahaan, dan bahkan Bank Sentral (BI) yang sedang berusaha membela mata uangnya.
3. Penelahaan (Simulasi)
Misalkan Soros memiliki Surat utang pemerintah Amerika Serikat US Treasury Bond sebesar USD 20 Milyar, dengan bunga 4% per tahun. Jika 1 USD = Rp 2500, maka nilai surat utang negara amerika serikat, jika dikonversi ke rupiah menjadi Rp 50 Triliun.
Dengan jaminan US Treasury Bond yang dimiliki Soros, lalu dia meminjam rupiah ke DBS Bank (Development Bank of Singapore), sebesar Rp 30 Triliun.
Setelah mendapatkan uang sebesar Rp 30 Triliun, soros menjual rupiah tersebut ke bank-bank yang ada di Singapura dan Hongkong, seperti OCBC Bank (Oversea-Chinese Banking Corporation), UOB (United Overseas Bank).di Singapura dan HSBC, Standard Chartered Hong Kong, Bank of China (Hong Kong), dan Hang Seng Bank di Hongkong, dengan jumlah yang besar (Short Selling).
Karena terjadi Short Selling rupiah secara besar-besar di bank-bank Singapura dan Hongkong, mengakibatkan nilai rupiah turun signifikan dalam waktu seminggu misalnya yang sebelumnya 1 USD = Rp 2500, menjadi 1 USD = Rp 5000. Penurunan nilai rupiah disebabkan rupiah yang dijual Soros besar sementara peminatnya kurang bahkan tidak ada.
3.1 Siapa yang sebenarnya berpotensi membeli Rupiah
Yang berpotensi membeli rupiah adalah sebagai berikut:
3.1.1 Perusahaan Multinasional yang beroperasi di Indonesia
sudah punya banyak Rupiah dari hasil jualan di Indonesia, maka mereka tidak tertarik membeli rupiah yang ditawarkan Soros.
3.1.2 Investor Asing
Mereka justru ingin keluar dari Indonesia. Mereka menjual saham dan obligasi mereka, lalu menukarkan Rupiahnya ke Dolar agar kekayaan mereka tidak hilang saat ada tanda tanda penurunan nilai mata uang rupiah
3.1.3 Masyarakat Lokal (Rumah Tangga)
Saat nilai mata uang rupiah cenderung turun terus, masyarakat cenderung tidak ingin memegang Rupiah. Mereka lebih memilih membeli Dolar atau Emas untuk menyelamatkan tabungan mereka dari inflasi (kenaikan harga barang).
3.1.4 Perusahaan dengan Utang Luar Negeri
Perusahaan yang punya utang dalam Dolar sangat panik. Mereka tidak mau membeli Rupiah; sebaliknya, mereka berebut membeli Dolar untuk segera membayar cicilan utang mereka sebelum harga Dolar semakin mahal
Kesimpulan: Singkatnya, hampir semua orang tidak tertarik membeli Rupiah karena mereka takut nilainya akan semakin rendah besok harinya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya "kekosongan pembeli" di pasar, lalu:
3.2 Siapa Yang Membeli Rupiah
Jika semua orang tidak tertarik, lalu siapa yang akhirnya membeli? Hanya ada dua pihak yang pada akhirnya membeli Rupiah dalam jumlah besar yaitu:
3.2.1 Bank Indonesia (Pembeli Terpaksa)
Sebagai "penjaga" mata uang, BI adalah pihak yang wajib membeli Rupiah untuk mencegah harga jatuh terlalu dalam. BI menggunakan cadangan Dolar AS milik negara untuk membeli kembali Rupiah yang dibuang Soros dan para investor.
Risikonya: Jika cadangan Dolar BI habis, BI tidak bisa membeli lagi, dan Rupiah akan jatuh bebas (ini yang terjadi pada 1998).
3.2.2 George Soros Sendiri
Ini terdengar aneh, tapi Soros dkk akhirnya harus membeli kembali Rupiah yang mereka jual. Kenapa?
a. Karena mereka meminjam Rupiah dari bank DBS Bank (Development Bank of Singapore).
b. Untuk mengembalikan pinjaman tersebut, Soros harus memegang Rupiah.
c. Mereka menunggu sampai harga Rupiah sangat murah (misal dari Rp2.500 jadi Rp15.000), baru mereka membelinya di pasar untuk melunasi utang ke bank
d. Selisihnya itulah keuntungan Soros. Dulu dia pinjam rupiah ke DSB Bank sebanyak Rp 50 Triliun atau USD 20 Milyard. Sekarang dia beli rupiah cukup dengan uang USD 3,3 Milyar. Jadi untung Soros USD 16,7 Milyar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar